KDRT sendiri merupakan jenis kekerasan yang paling menonjol pada tahun 2018.
Berdasarkan Catatan Tahunan Kekerasan Terhadap Perempuan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)/Ranah Personal mencapai angka 71% atau sebesar 9.637 kasus.
Meski sudah ada Undang-undang Penghapusan KDRT (UU P-KDRT) yang sudah diberlakukan selama 14 tahun, namun hanya 3% dari kasus KDRT yang dilaporkan ke lembaga layanan yang sampai ke pengadilan.
Dilansir BBC, direktur Rifka Annisa Women's Crisis Center, Suharti, menjelaskan bahwa ada banyak perempuan memilih bertahan meski berada dalam hubungan yang penuh kekerasan.
Beberapa perempuan yang jadi korban KDRT juga tidak mau melapor karena beberapa alasan.
Salah satunya kultur masyarakat yang sangat patriarkis dan menempatkan perempuan pada kelas kedua.
Ini membuat perempuan korban KDRT seringkali dihakimi oleh masyarakat karena dianggap penyebab terjadinya kekerasan. (*)