Tengah Bersih-bersih Loteng, Pria Ini Kaget Temukan Barang Peninggalan Kakek, Jadi Bukti Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Minggu, 30 Agustus 2020 | 19:30
Tribun Sumsel

Viral surat utang negara tahun 1947 senilai Rp 1.500 di Ogan Komering Ilir (OKI)

Sedang bersih-bersih loteng, pria ini kaget temukan barang peninggalan kakek. Jadi bukti perjuangan kemerdekaan Indonesia

WIKEN.ID- Sedang bersih-bersih, seorang warga di Desa Tanjung Baru, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, menemukan sesuatu yang aneh.

Ia menemukan secarik kertas yang rupanya bernilai sejarah.

Yakni surat piutang negara pada tahun 1947.

Penemuannya ini menggegerkan warga.

Pria bernama Harun Djakfar ini diketahui sebagai cucu yang membuat surat perjanjian utang negara tersebut.

Baca Juga: Sempat Tak Terima Dirinya Idap Gangguan Mental, Marshanda Akhirnya Bersyukur dengan Apa yang Diberikan Tuhan Kepadanya: Bisa Jadi Surga di Dunia

Dalam surat itu, tertera jumlah nominal uang yang dipinjam dari seseorang bernama H. Jakfar sebesar Rp 1.500.

Tertulis tanggal 10-11-1947 yang menandai keterangan waktu surat tersebut ditulis.

Harun menduga, uang itu dipinjam oleh Karesidenan Palembang untuk keperluan pemerintah kala itu.

"Ya mungkin waktu itu kan masih musim penjajahan, bisa jadi akibat keuangan yang menipis," ujarnya, saat ditemui Tribun Sumsel, Rabu (19/8/2020).

Baca Juga: Baru Sebentar Legal Lalu Gagal Legal Jadi Tanaman Obat, Ini Dia Penjelasan Kementerian Pertanian Soal Cannabis Sativa Jadi Komoditas Binaan

Tribun Sumsel

Viral surat utang negara tahun 1947 senilai Rp 1.500 di Ogan Komering Ilir (OKI)

"Maka presiden Sukarno memerintahkan kepada Karesidenan Palembang untuk sementara waktu meminjam uang ke rakyat Sumatera Selatan.

"Dan salah satunya kakek saya, H. Jakfar yang kala itu saudagar dari marga Bengkulah ikut meminjamkan uangnya sebesar Rp1500," terangnya.

Adapun, Harun mengaku menemukan surat itu karena ketidaksengajaan.

Yakni, pada 2014, ketika adiknya membersihkan loteng di rumahnya tak sengaja menemukan beberapa peti tua yang masih terkunci di dalam sebuah guci tua.

Setelah dibuka, rupanya berisi setumpuk kertas peninggalan kakeknya yang sebagian sudah tidak utuh.

Baca Juga: Bagaikan Petualang Cinta Sejati, Ini Dia 7 Wanita yang Sering Disebut Pernah Mengisi Hati Ariel Noah, Gak Ada yang Gak Cantik!

"Setelah dibaca satu persatu, kami kaget menemukan surat perjanjian pinjaman ini. Apalagi isinya mengenai pinjaman oleh negara," ujarnya.

Tak ingin surat itu rusak, ia dan keluarganya pun langsung melapisi surat itu menggunakan plastik atau dilaminating.

Harun berharap, bila surat tersebut memang benar adanya, negara bisa mengembalikan uang tersebut kepada keluarganya.

Tentunya dengan mengakumulasi nominalnya dengan nilai tukar yang berlaku saat ini.

"Kalau bisa diganti ya lebih bagus. Karena ini utang negara, jadi yang bertanggung jawab harus negara juga.

Baca Juga: Ogah Terima Bayaran Rp 1,7 Miliar, Nikita Mirzani Bongkar Praktik Artis Baru yang Doyan Settingan Agar Tenar

"Setelah itu kami akan memberikan surat ini kepada pemerintah, jika nantinya memang akan dimuseumkan," pungkasnya.

Sementara itu, melansir dari Sripoku, Pemerhati Sejarah Kota Palembang, Rd Muhammad Ikhsan memberikan tanggapannya.

"Bukan pembuktian asli atau tidaknya surat itu karena juga merupakan tulisan tangan. Tapi yang lebih harus dibuktikan adalah maksud dari yang saat ini kita tangkap pada tulisan itu.

"Apakah sudah sesuai atau belum dari makna sebenarnya," ujarnya, Rabu (19/8/2020), seperti dikutip dari Sripoku.

Baca Juga: Mantap Putuskan Menjadi Mualaf hingga Berhijab Seusai Dapatkan Mimpi Aneh, Marcella Simon: Cuman Bingung Aja Gak Ada Pegangan

Menurutnya, surat itu dapat dibuktikan kebenarannya dengan menghubungi para saksi mata yang tertulis di dalamnya.

Ia mengatakan, bila surat itu benar adanya, maka dapat menjadi bukti betapa kuatnya dukungan masyarakat Palembang kepada para pejuang kemerdekaan.

Mengingat surat itu dibuat beberapa bulan setelah terjadinya agresi militer pada 21 Juli 1947.

"Bukan cuma pejuang, masyarakat umum juga ikut berpartisipasi dalam mendukung perjuangan para pejuang, membantu sebisa mungkin yang mereka bisa.

"Dan kalau memang benar surat itu bukti pinjaman uang dari rakyat ke negara saat masa perjuangan, artinya masyarakat juga bersedia meminjamkan uangnya untuk membantu para pejuang kita.

"Ini hal yang sangat luar biasa," pungkasnya.(*)

Editor : Agnes

Baca Lainnya