WIKEN.ID - Perasaan jatuh cinta datang kapan saja dan tak pandang umur.
Tidak ada yang tahu bagaimana misteri apa yang akan terjadi di masa depan, termasuk jodoh.
Hal ini seperti dengan kisah cinta seorang pemuda kelahiran dan wanita yang umurnya sudah 50 tahun.
Artinya, jarak umur mereka yang hampir 25 tahun tak menghalangi mereka untuk jatuh cinta.
Bahkan, mereka pun melanjutkan tahap pacaran hingga melangkah ke tahap pernikahan.
Kisah pernikahan beda umur ini dialami oleh pemuda yang bernama Destoko (25 tahun) dan Rasmiati (50).
Destoko adalah warga Dusun Legok RT 8 RW 3, Desa Panusupan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.
Sedangkan Rasmiati adalah warga Desa Kedungwuluh Kidul, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas.
Benih-benih cinta antara perjaka dan janda ini bermula dari pertunjukan kesenian kuda lumping.
Ada istilah jawa yang berbunyi, 'Witing Tresno Jalaran Saka Kulino' atau yang artinya cinta berawal karena terbiasa.
Baca Juga: Akui Pernikahan Gaibnya dengan Seekor Ular, di Video Wanita Ini Ungkap Bentuknya: Ada Kakinya!
Pepatah inilah yang menggambarkan benih-benih cinta mereka tumbuh.
Keduanya sering tampil bersama atraksi kuda lumping.
Destoko adalah seorang penari Ebeg (kuda lumping) dan bergabung dengan paguyuban Ebeg Mugi Lestari,di bawah asuhan ayahnya sendiri, Siskun Wiswadi.
Sejak kecil, Destoko sudah lihai dalam menari dan sangat luwes dalam berkesenian ebeg.
Dia biasa tampil ke beberapa wilayah di Kabupaten Banyumas.
Suatu saat Siskun Wiswadi membutuhkan seorang sinden untuk pentas ebeg di kelompoknya.
Destoko lalu menyarankan untuk mengajak Rasmiati yang merupakan sinden wayang untuk ikut bergabung menjadi sinden ebeg (kuda lumping).
Akhirnya Rasmiati setuju dan ikut bergabung menjadi sinden Ebeg.
Karena masih aktif memenuhi permintaan sebagai sinden di beberapa tempat, Destoko mau untuk menjemput dan mengantar Rasmiati kemanapun dia pentas.
Bahkan Destoko setiap hari antar jemput Rasmiati hingga wanita sinden yang terkenal di Jawa Tengah ini sangat ketergantungan dengan Destoko.
"Kebetulan sinden Ebeg waktu itu cuma satu dan kurang. Akhirnya mengajaknya untuk ikut bergabung menjadi sinden Ebeg. Ketika akan pentas ya saya antar jemput," ujar Destoko yang dikutip kepada Tribunjateng.com.
Kuantitas pertemuan keduanya membuat mereka saling jatuh cinta.
Tak hanya antar jemput, mereka kerap satu panggung dalam pentas kuda lumping.
Destoko menari sedangkan Rasmiati menjadi sindennya.
Keduanya pun saling mengagumi.
Destoko mengagumi lantunan suara sinden Rasmiati sedangkan Rasmiati mengaku terpikat dengan Destoko yang masih muda dan bertalenta sebagai penari Ebeg.
"Kalau istilahnya itu Ndelik (enak buat didengar), beda dengan sinden-sinden lain. Saya joged, dia nyinden. Kharisma dan auranya benar-benar sinden," ujar Destoko.
Atas dasar cinta dan saling suka mereka serius membangun rumah tangga.
Rasmiati pun memberanikan diri datang menemui orang tua Destoko.
"Aku bilang sama dia, kalau kamu suka sama aku bilang sama orang tuaku," kata Destoko.
Rasmiati akhirnya memberanikan diri datang dan memohon restu apakah bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Mendengar niatan mereka untuk mensyahkan menjadi sepasang suami-istri, ibunda Destoko, Narsiti mengaku setuju dan memasrahkan keputusan kepada anaknya itu.
"Sebenarnya orang tua sudah menasehati dan meyakinkan apakah benar-benar siap menikah dengan Rasmiati.
Tetapi orang tua memasrahkan kembali pada anak, jika sudah suka ya bagaimana lagi," jawab Narsiti.
Karena kedua keluarga sudah saling setuju dan mereka sudah memutuskan untuk menikah, akhirnya pada Rabu (21/8/2019) mereka berdua melangsungkan akad pernikahan. (*)
Baca Juga: Benturkan Kepala ke Genteng, Pawang Kuda Lumping di Sumsel Ini Tewas, Lihat Videonya!